BANK Perkreditan Rakyat-Bank Perkreditan Rakyat Syahriah (BPR-BPRS) yang saat ini beroperasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta untuk bertransformasi dengan memperluaskan fungsi dan peran dalam membangun ekonomi NTT jauh lebih baik.

Hal tersebut diungkapkan Ketua DPD Perbarindo NTT, Ketut Surahardja dalam sambutannya pada peringatan Hari BPR-BPRS Nasional, di area Car Free Day jalan El Tari I Kupang, Sabtu (7/7).
Pada kesempatan tersebut, Ketut mengatakan, kegiatan yang mengusung tema “BPR-BPRS, Bank Milik Anak Negeri” itu untuk membangun semangat Industri BPR-BPRS agar lebih bertumbuh dan berkembang ke depan.

Selain itu, menurut Ketut, dipilihnya tema ini juga dengan pertimbangan untuk membangun pemahaman di masyarakat, regulator dan pemerintah bahwa industri BPR-BPRS merupakan bank milik anak negeri yang seluruh kepemilikan dan pengelolaan manajemennya dilakukan oleh SDM lokal. “Industri BPR-BPRS juga merupakan community bank yang tumbuh dan berkembang sepenuhnya untuk melayani kebutuhan masyarakat di mana BPR-BPRS itu berada,” tambah Direktur Utama BPR Sari Dinarkencana.

Untuk itu, guna menjawab tantangan zaman dan teknologi saat ini Ketut menegaskan bahwa Industri BPR-BPRS yang ada di NTT harus bertransformasi dengan perluasan fungsi dan perannya. Peran BPR-BPRS di NTT sangat besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi NTT untuk itu perlu ada perubahan setiap waktu.
lebih lanjut Ketut menyampaikan, diadakannya acara peringatan Hari BPR-BPRS Nasional pada tahun 2018 ini untuk memberi pesan kepada masyarakat, khususnya yang ada di NTT antara lain bahwa BPR-BPRS seratus persen Indonesia di mana kepemilikan dan pengelolaannya dilakukan oleh anak negeri.

Ketut mengatakan, BPR-BPRS merupakan sahabat UMKM, tabungan, dan deposito yang dipercayakan kepada BPR oleh masyarakat aman karena dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

“Dan yang paling penting bermitra dengan BPR, maka akan sangat menguntungkan dan membawa berkah,” tegasnya.

Saat ini 12 BPR telah ada di NTT, tujuh BPR berada di Kota Kupang dan lima BPR berada di kabupaten se-NTT. Total aset ke-12 BPR mencapai Rp 699,2 miliar, dana pihak ketiga dihimpun sebesar Rp 535,5 miliar, sedangkan kredit yang disalurkan oleh ke-12 BPR Rp 544,8 miliar.

Launching Logo Bersama
Dalam memperingati Hari BPR-BPRS Nasional tahun 2018 tersebut juga diadakan peluncuran atau launching logo bersama BPR-BPRS Nasional yang baru. Turut menyaksikan Kepala kantor Otoritas Jasa Keuangan Perwakilan Provinsi NTT, Winter Marbun, karyawan-karyawati BPR bersama keluarga, serta nasabah BPR, dan undangan lainnya.

Dalam sambutannya Marbun mengapresiasi pertumbuhan industri BPR di Provinsi NTT, dimana pertumbuhannya melebihi pertumbuhan BPR secara nasional. “Dengan aset yang hampir mencampai Rp 700 miliar, pelaku industri BPR tidak usah malu atau minder, karena pertumbuhan aset melebihi pertumbuhan aset secara nasional,” ungkapnya.

Pantauan VN, acara peluncuran logo baru ini ditandai dengan pelepasan balon udara bersama logo BPR-BPRS, dengan harapan agar industri BPR di NTT terus bertumbuh dan berkembang.